Jumat, 01 Oktober 2010

Menata Hati

Malam ini aku sedang berusaha memungut satu demi satu keping hatiku yang jatuh berserakan. Hati yang dulu sangat utuh tanpa tersentuh siapapun kecuali dirimu sama seperti hatimu yang hanya tertulis namaku. Namun semua hanya tinggal kenangan, kini cerita itu hanya akan jadi masa lalu, hanya ada dalam sebuah dongeng atas nama cinta yang pernah diperankan oleh kita berdua. Tak terasa tinggal sebulan sebuah perayaan atas sakit hati yang pernah kau ukir...tanggal 10 November 2009 tak akan mungkin kulupakan, perayaan atas sakit yang pernah kau torehkan, perayaan atas kesedihan dan air mataku dan keluarga, perayaan atas kematian cinta yang sangat kuagungkan. Perayaan atas sebuah pengkhianatan yang hingga kini tetap kau lakukan padaku tanpa ada sedikitpun penyesalan bahkan kini terbungkus rapi oleh kasih sayang semu. Kini semua bagai bom waktu yang siap meledak kapanpun. Apakah aku akan menjadi korban kembali, entahlah aku sedang menantikan saat itu tiba saat aku akan menemukan bahagiaku atau justru sejarah itu akan terulang kembali....kejam...kejam...sangat kejam atas yang kau lakukan pada diriku saat ini. Satu persatu kebohongan itu terungkap, kini aku pun tahu rencana yang sedang ada dipikiranmu. Janji, sumpah semua seakan tak berarti karena dibelakangku janji itu pun kau persembahkan untuk orang lain. Emosi ini kadang tak mampu aku kontrol saat membaca pesan-pesan dari seseorang.....aku ingin mengabadikannya di blogku supaya suatu waktu aku bisa bernostalgia dengan rasa sakit ini :

Ayah..mksh td mlm sdh bs bkm bnda tenang..kt2 ayah bkn bnda ykn dgn semua yg kt jalani..smg semuanya brjln dgn baek dan sesuai hrpan..keluarga..

Ayah..td pg sblm ayah plng kepangkep..itu adalah hal terindah dan kebahagian yg sngat berarti buat bunda.. tdk ada nilah nya,mksh buat semuanya..bunda pst kuat ko menjalani ini smua,slm sujud buat ibu,bapa ya...

Pesan-pesan itu ingin aku simpan sebagai sebuah memory dari rasa sakit yang pernah kau torehkan. Tersenyum geli dengan semua yang kulakukan malam ini, tak ada lagi air mata karena semua sudah berlalu. Saat kuraba hatiku, terasa masih ada yg tersayat perih, perih dan perih. Apakah ini arti dari sebuah janji, sumpah yang pernah terucap??????Kau sedang merintis bahagia di atas luka hatiku tapi tak mengapa Allah Maha Melihat atas kesabaran dan pengorbananku selama ini, cukup Dia yang menjadi penilai yang paling hebat. Aku tak bisa membalasnya meski aku punya banyak kesempatan andai aku ingin tapi aku tak punya kekuatan untuk saat ini. Teringat dengan lamaran teman lama 2 minggu yang lalu, aku tersenyum dan mencari jawaban yang tak menyakiti hatinya meski pernah terpikir untuk nekat mengakhiri kesendirianku dengan menjadikan dia sebagai pelarian atas rasa sakit ini tapi haruskah aku mengorbankan orang lain????Aku tak ingin melakukan itu karena aku masih menghargai kesetiaan meski aku dikhianati. Aku bahkan tak ingin membuat sebuah celah untuknya mengenalku terlalu dalam. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar